ANTARA DUSTA DAN DERITA [?]

Dinginnya malam membuat resah para penyair. Keresahan yang merajam, yang tiada henti menguras akal untuk bagaimana agar keresahan tersebut bisa terkendalikan, apakah dengan uang? Sangat-sangat tidak mungkin dan sangat mustahil. Terlintas alunan cerita dari seorang anak dengan seorang bunda dalam percakapan panas serta yang sangat romantic.

“Inaq apa ta gawek antek ta yakta ta gete doang”, Tanya seorang anak perempuan yang sudah jenuh atas batasan-batasan gerak dalam hidupnya, yang pertanyaan itu tertuju pada dekapan telinga indah sang bunda tercinta. Dan akhirnya beliaupun bercerita. “cobak pedenger lagu dangdut, tenang idap-pe laguk dangdut asli yakna dangdut-dangdutan makun nengkajak. ” Anak tersebut tercengang dan sangat kaget mendengar semua kata-kata yang terlontar yang tidak pernah secercikpun untuk berniat dalam mengambil tema tersebut dalam pemikirannya untuk menghilangkan keresahaannya serta rasa penasaran-pun mulai terbentuk dalam benang-benang kebingungan.

Kehidupan yang serba tajam yang menjadi mimik muka dalam perjalanan membuat sebuah titik jenuh dari kaum manusia. Kejenuhan yang tiada henti terus mengalir laksana darah yang setiap setengah detiknya bahkan seper seribu detik terus menghantui para kaum manusia, begitu juga tahun era sembilan-puluhan. Mereka manusia, mareka juga ingin senang, kesenangan itu tidak akan pernah bisa disinonimkan dengan sedikit senang atau sedikit mendekati titik jenuh atau bahkan jenuh. Kadang kesenangan itu membuat boomerang bagi mereka. Yang karena berbeda tahun berbeda hari berbeda waktu harus terkubur mendalam sangat dalam, bahkan tidak bisa tercium dalam alunan nafas kehidupan, yang tertimbun dalam alunan adepun tuk buah hati tercinta serta pencitraan terhadap masyarakat yang amat dibentengi dengan sekat-sekat peraturan untuk sang buah hati.

Apakah kami berbeda?Apakah kami taksama? Apakah setiap waktu manusia itu bisa berubah laksana petir yang tak pernah bisa tenga dalam alunan nada datar? Asumsi-asumsi pencitraan lagu dangdut sudah tergores sangat mendalam dan sangat perih dalam keratin daging para pencinta dangdut sejati. Kehebohan dari pendangdut masa kini membuat mata batin serta kaum-kaum yang melihat dangdut dengan hanya kelopak matanya saja, mangakibatkan bibit dari pendangdut tidak lagi ada bahkan pemberantasan semakin mejadi-jadi. Banyaknya asumsi “jenggit” membuat pencitraan dangdut tenggelam di bawah ujung tanah sana. Padahal dangdut adalah kebanggaan dan asset bagi pemberantasan rasa bosan. Alunan nada-nada dari dangdut sejati merupakan khirarki yang diciptakan Sang Maha Segalanya untuk memanjakan telinga kita dalam ketajaman hidup.

Keterangan:
tiang nyobak nulis-nulis,..hehe
Oleh: Yuliana Nana

comments