ORANG-ORANG DI LEINSTER MENYEBUTNYA: MARGADH!..KALO KITA MENYEBUTNYA: PEKEN!

Wanasaba Tim

Wanasaba Tim

ADMIN at wanasaba.com
Thenks telah berkunjung dan ngobrol, dari kami tuan rumah wanasaba(dot)com.
Wanasaba Tim

Latest posts by Wanasaba Tim (see all)

Oleh: Lalu Fadli

BAGIAN I
Ketertarikanku pada pasar tradisional sungguh tak terperi. mengalahkan ketertarikan Kennedy terhadap Marilyn Monroe. Haaa.. sangat berlebihan memang selain juga komparasi yang sangat timpang. Setiap kota yang aku kunjungi, pasar adalah tempat yang tidak boleh terlewatkan, selalu menjadi nomor wahid dan hukumnya fardhu ain untuk dikunjungi. Para ahli tidak pernah tahu kapan pastinya pasar terbentuk, apakah zaman prasejarah dalam bentuknya yang masih sangat sederhana, ataukan mulai pada zaman sejarah sebagai prototype pasar tradisional dewasa ini. Tapi aku yakin, pasar pertama kali terbentuk sejak zaman nabi Idris ada. Entahlah mungkin ketika zaman nabi Adam kuantitas manusia masih sedikit dan kebutuhan mereka masih jauh dari kompleks. Pasar yang merupakan tempat interaksi sosial jual beli ini meniupkan aroma-aroma yang sungguh khas, begitu emosional.

Berbagai macam rupa orang ada, identitas sudah tidak penting lagi disini. Secara Orthodox isi kepala orang-orang disini ada dua. Mendapatkan barang yang mereka inginkan bagi para pembeli, dan menjual barang sebanyak-banyaknya atau semaksimal mungkin sampai habis bagi para penjual. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa ada kepentingan segelintir orang ikut masuk yang menyebabkan munculnya “additional job” dari yang dua tadi seperti pengamen, pengemis bahkan copet yang selalu menambah masalah dan relatif selalu ada. Suara tawar-menawar antara pembeli dan penjual, bunyi pisau pemotong daging yang bersahut-sahutan, dan rincikan daun sayuran yang dipilah-pilah oleh pembeli itu berdendang harmonis sekali, seperti sebuah pertunjukan besar orkestra yang dipersiapkan selama berbulan-bulan. Mungkin saja komposer besar jerman Ludwig Van Beethooven menikmati ini, atau bahkan Mozart belajar banyak dari tempat seperti ini. Film August Rush memberi tahu kita bahwa setiap sudut suatu tempat mempunyai padu-padan musikal yang indah, sebuah harmonisasi elemen yang apik.

Semua bangsa pasti mempunyai ciri pasar yang tipikal. Di pegunungan Tibet, di pedalaman Sudan ataupun di daerah-daerah sepanjang pantai Sisilia dan Grenada pasti mempunyai cerita mereka sendiri-sendiri. Tapi ada juga kualifikasi pasar yang mirip bahkan bisa dibilang sama sebagai akibat dari interaksi budaya yang berlangsung lama atau wilayah-wilayah yang menjadi Sphere of Influence bangsa tertentu. Pasar-pasar di negara-negara Indochina seperti Myanmar, Laos dan Kampuchea mirip sekali dengan model pasar yang ada di China daratan. Beberapa pasar-pasar tradisional di beberapa negara Amerika Latin bahkan persis sama seperti pasar yang ada di Portugal dan Spanyol, mulai dari konsep tata letak, elemen-elemen pasar sampai cara mereka menawar suatu barang sungguh sama persis. Mungkin pada awalnya ini tidak jauh dari peran langsung para Conquistadores yang dibiayai oleh kerajaan spanyol untuk membuat koloni di dunia baru ini (Amerika Latin). jejak pasar kaum pribumi asli sudah lama hilang sejak adanya proyek pembersihan etnis di Amerika Latin selama Zaman Kolonial. Ingat ketika bagaimana Hernando Cortez menghancurkan peradaban Aztec secara brutal dan juga Fransisco Pizarro yang membantai penduduk Inca sekitar tahun 1535 masehi.

Baiklah, setelah membaca beberapa literatur, searching di internet dan menonton National Geographic Channel, tidak ada pasar di dunia ini yang membuat saya begitu bergairah selain model pasar di Timur Tengah, Arab punya ini. Pasar atau yang populer disebut “Syuuk” ini memang khas. Aslinya tidak berada di tanah lapang seperti pasar kebanyakan, tetapi berada di lorong-lorong jalan pemukiman penduduk. Kain lebar pelindung panas/hujan mereka yang ditempelkan di tembok-tembok rumah berakhir dengan renda-renda yang khas di setiap tepian mereka persis seperti yang digambarkan dalam serial Aladdin kartun Disney itu. Satu hal yang paling paling membuatku terobsesi harus berada di tengah pasar ini sekarang juga adalah kebisingan mereka yang sangat super. Baik para penjual maupun pembeli berteriak sekencang-kencangnya bagaikan mengumpat memarahi orang. Detail ekspresi wajah mereka ketika terlibat tawar menawar bagaikan orang Indonesia yang baru saja gagal usaha besar dan terlibat hutang. Urat-urat di leher dan di dahi mereka bermekaran bagaikan otot leher kobra yang mengembang ketika sedang terdesak. Pernah nonton sequel Sex and The City ketika petualangan tiga wanita metropolis paruh baya itu berada di Dubai? Begitulah kira-kira situasi dan kondisinya, menarik bukan main.

Nenekku pernah bercerita pengalanmannya ketika beliau berada di Makkah ketika sedang menunaikan ibadah Hajji. Waktu beliau menawar kurma kering dengan menaikkan tiga jari (Berarti tiga Real) padahal pedagangnya sudah memberi tanda lima jari, sang pedagang langsung berdiri dengan mata melotot dengan berteriak, “Laaaa’…Laaaaaa’…Laaaaaaaaa’!!!”. Bahkan nenekku yang pernah ikut membantu para gerilyawan untuk melawan Jepang itu gemetaran juga, kagetnya bukan kepalang. Nenekku segera melarikan diri seperti Antelope yang baru melihat Cheetah dari kejauhan sana. Sang penjual kurma nampaknya kurang puas dan merasa tidak dihormati. Sang penjual kurma langsung naik ke mejanya dan berteriak lagi, “Haroommm…Haroommm…Harooommm…@#$$%%Udiiiinnnnn&%$###@#$%&^%”, Nenekku tidak mengerti apa maksud perkataan sang pejual kurma, takut berakhir tragis, beliau menaikkan gigi kecepetan, panik dikira diteriaki copet seperti pasar-pasar di Indonesia. haih sudah ya, ..tidak tahu ini harus berakhir di pasar mana , tapi pada intinya nenek saya selamat dan kembali ke Tanah Air tanpa kurang satu apapun, ketika itu.

Lantas, bagaimana dengan peken kita di Wanasaba? ada yang khas?

 

 

comments

Thenks telah berkunjung dan ngobrol, dari kami tuan rumah wanasaba(dot)com.