Part I: Mengelola Perpustakaan Desa dengan Manajemen Swasta (dekun..)

Ikut (LOMBA) juga nih..daripada ribut di grup, mending baca tulisan ane aja gan (PROMO DUNIA AKHERAT) Wew..

Part I: Mengelola Perpustakaan Desa dengan Manajemen Swasta (dekun..)

Judulna doang “berat”, Laguk isina ah-deang uhuhuhu…

Seperti ditulis diatas, tulisan ini dibuat dengan sederhana saja, hanya saja judulnya sengaja dibuat lebih ‘seram’ duluan untuk menutupi kesederhanaannya. Ada dua hal mengapa tulisan ini biasa-biasa saja, PERTAMA saya bukan tipe penulis yang ‘akan bahagia’ jika melihat ada semacam aturan nulis yang harus diikuti oleh penulis misalnya lomba tulis ini harus membahas perpustakaan dengan kaum terpelajar. Saya lebih menyukai tulisan yang bebas misalnya membahas perpustakaan dengan apa saja tanpa harus terikat dengan apapun karena saya pribadi sepertinya sudah ditakdirkan untuk menjadi bebas sejak lahir, bebas kemana-mana, kelep keto-kete, jenggit ahmele-mele…KEDUA, saya bingung mau menulis apa sebenarnya ( udah habis ide nih..hiks help meh ), inilah masalahnya hahah.. tulisan-tulisan peserta lomba sebelumnya wah pada bagus-bagus bahkan ada yang idenya itu original alias ASELI keren Be Ge Te DeH dan tinggallah saya disini sendiri seperti seonggok dedaunan kering yang ditiup oleh angin. Appa sih… ..Heh Serius! Oh iya…ampuun..Hu’uh hu’uh…iya neh udah mau mulai kok gan

Oh iya, tulisan ini akan ‘menyerobot’ ide teman-teman peserta lomba yang sudah ada sebelumnya, ga enak juga sih..tapi yaa..mohon mangap lah gaan… ide lagi kering nih, terlebih tulisan ini dibuat di tengah-tengah medan tempur, tapi karena udah janji mau nulis, harus ditepati dong ya..heuheu..

Okay, let’s start! Wew..

Ada beberapa ide yang menarik dari beberapa penulis lomba, menurut hemat penulis, tulisan mereka terbagi menjadi dua, pertama tulisan dengan tema besar dan lebih abstrak misalnya karya saudara Aspal Panas . Kemudian tulisan yang lebih spesifik dengan menembak langsung solusi dari masalah bisa ditemukan dalam karya saudara Coka Syaoka yang ingin menarik minat pengunjung perpustakaan dengan pengadaan jaringan wi-fi, ada juga Yahya Nyanyuk Endah yang memiliki ide warung yang memiliki perpustakaan yang idenya bertolak belakang dengan Universitas Harvard di Amerika, dimana justru perpustakaannya yang memiliki warung (tepatnya cafetaria) yang menurut cerita temen saya, cafetaria tersebut dibuka 24 jam agar pengunjung betah, tidak perlu pulang karena bisa membeli makanan langsung disana. Tapi diantara sekian ide tulisan para peserta, saya lebih tertarik untuk mengembangkan ide Rafi Naxc Rosita yang menurut saya..di balik karya sederhanyany yang ingin memindahkan lokasi perpustakaan desa ke Pengkolan, justru tersimpan mahligai karya nusantara yang tiada duanya (Appa lagi siih..fokus fokuus )…maksudnyaa… sebenarnya ada logika yang menarik lho dibalik tulisan sederhanyanya tersebut tapi tentu saja dengan versi sentuhan yang berbeda. Tulisan saya selanjutnya tidak lupa pula menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya (Surat undangan kalii..) kepada karya saudari Irma Tazkira yang turut juga menginspirasi tulisan ini dengan ide perlunya perubahan paradigma dalam mengelola sebuah perpustakaan.

Bagaimana bentuk kolaborasi ide kedua penulis tersebut, tunggu ya..saya mau ngetik dulu, berusaha mengumpulkan sisa energi yang tercecer di tengah rasa kantuk yang luar dari biasanya. Zzzz..

BERSAMBUNG

Oleh: Lalu Fadli Gillardino Rahman
(Agenda Lomba Tulis Grup facebook Wanasaba Hari Ini:23 februari-6 maret 2014)

comments