Selamat Hardiknas Sekolahan Wanasaba

Sekali lagi, saya mengucapkan selamat hari pendidikan nasional buat sekolahan yang ada di wanasaba. Semoga moment Hardiknas tahun ini, membuat sekolahan wanasaba semakin good dan lebih fresh dalam keberlangsungannya sebagai lembaga pendidikan formal. Yups.. Dan semoga kita semua lebih mau mengerti juga tentang Hardiknas dan Moment Peringatannya… iyoi

Ceritanya niii, saya ingin ikutan lomba tulis bersama teman lainnya, menulis sekolahan wanasaba dalam moment peringatan Hardiknas tahun ini. Lomba ini dilangsungkan lewat grup facebook-nya warga wanasaba, yaitu Wanasaba Hari Ini. Tema lombanya mengkritisi sekolahan dan memberikan solusinya sekaligus. Itu yang ditawarkan penyelenggara lombanya.

Lekas, baiknya saya menyiapkan materi tulisan yang good dan mencari referensi yang best, agar tulisan saya bagus di baca buat orang ramai, bermanfaat dan inspiratif nantinya. Semoga sahaja..

Tema tentang sekolahan… mulai saya menyisihkan waktu sebentar buat browsing di internet, mencari website resmi beberapa sekolah ternama di indonesia, salah satunya yang muncul, ialah SMA Negeri 1 Yogyakarta, yang juga masyarakat sana sering menyebutnya dengan SMA teladan. Begitu katanya di wikipedia bahasa indonesia. Tidak hanya itu, saya juga melihat-lihat website-nya sekolahan di Lombok: SMK mataram, SMA selong dan sekolahan lainnya. Tentu di sana mereka bercerita tentang keberlangsungan sekolah mereka masing-masing secara lengkap: Catatan info sekolah, profil kegiatan guru, aktifitas siswa, galeri foto akademik dan lain sebagainya di publish secara terbuka, lengkap, teratur dan rapi. Iya melihat itu paling tidak saya sedikit merasa bisa memperoleh gambaran tentang sebuah sekolahan. Perkembangan, dan bagaimana mereka menggiatkan sekolahan mereka sendiri dengan sebaik-baiknya. Selain itu, saya mencari tahu “dong” tentang sekolahan yang ada di wanasaba dalam internet. MA,SMA DAN SMK-nya.

Saya belakangan, kebetulan merasa menjadi seorang bolang (bocah petualang), namun di dalam internet yaa,. Selama itu saya mau gak mau, dan dipaksa harus mau percaya dengan istilah globalisasi: dimana dunia begitu terbuka. Mau kemana saja sangat boleh,bebas, cepat dan dahsyat. Mau ke perkampungannya Geisha, yang berlokasi di Jepang sana juga boleh-boleh saja, catatan: Miyabi bukanlah seorang Geisha yaa. Hhaa, maksudnya, hal-hal seperti itu aja tersedia dikunjungi dengan gampang. Gimana dengan lembaga pendidikan yaa?, lebih-lebih lembaga pendidikan formal,.! Toh juga di indonesia sendiri, internet cukup merata, ada juga kemarin salah satu program pemerintah, yang diistilahkan “internet masuk kampung”, walaupun masih ada daerah/kampung yang belum terjangkau dan dijangkau oleh pemerintah. Paling gak di sini, wanasaba bisa dibilang sudah lama terjangkau akses internet lah ya..

Memandang wanasaba dari kejauhan dan secara keseluruhan, saya kerap galau. Saya merasakan persis mejalani hubungan jarak jauh dengan kekasih hati, istilah muda-mudi kekiniannya itu LDR (long distance relationship). Mau begini-begitu gak bisa, terasa pegel di hati sanubari sendiri pada endingnya. Menyampaikan kerinduan-ketulusan kerap disalahartikan juga, syukur-syukur ada yang ngasih tanggapan, lah kalau yang dirindukan budek alias tuli atau benar-benar gak bisa dihubungi (tak terjangkau-gak bisa dijangkau tadi), gimana?. Ya jadinya G.A.L.A.U, yang di baca gelless, ehh galau. Menyebalkannya, itu pernah masuk ke dalam mimpi tidur saya, dan ahirnya saya benar-benar bermimpi, mimpi panjang, sangat panjang dan menyebalkan. Sedikit berharap ada orang mengakhiri mimpi menyebalkan itu nanti. Tampil gagah seperti jagoan, kayak bintang film india yang rada-rada sok, yang sebenarnya ia lucu sih dan bikin geli orang lain. Terserah dia itu nanti melakukan apa yang sebisanya ajjah.

Sekarang sudah tahun 2014, ada moment Hardiknas, jatuh pada tanggal-2-mei, merupakan kelahirannya Ki Hadjar Dewantoro. Saya tahu setiap lembaga pendidikan formal (sekolahan) mengadakan acara buat memperingatinya setiap tahun, beragam dan bermacam-macam sekali. Ada yang dengan cara “jalan-sehat” dengan siswanya secara serentak, berpuisi, pertunjukan teater dan lain sebagainya yang beragam-macam bentuknya. Dan itu memang sudah semestinya.

Di dalam mimpi tidurku, ada orang yang dieam-diam bergerak, tampangnya sayup di balik topeng-topeng kreatif. Mereka membuat semacam media, mengarah untuk mengumpulkan warga secara massif, bersama-kekeluargaan. Mencari, mengumpulkan dan menyatukan sikap setiap warga yang mau dan keliatan respek di setiap moment hari besar, yang disematkan secara nasional atau pun euforia moment bersekala dunia, seperti perayaan tahun-baru, euforia Lebaran, Hari Kebangkitan Nasional dan Hardiknas seperti ini. Mereka sembunyi di balik famplet design gambar, yang nantinya semakin hari semakin berani memamerkan kreasi bikinan mereka sendiri di internet/facebok, dinding tembok dan ruang publik lainnya. Juga giat mengadakan sayembara menulis di sosial-media facebook bersama kawannya.

Dulu, saya sering ingin menunjukkan rasa senang, bangga, jengkel, kritik, tanggapan, argument, ide dan gagasan buat Desa dan apa yang di dalamnya, lebih-lebih buat sekolahan yang ada di wanasaba. Tetapi sungguh tidak bisa. Sebab kenapa, saya gak berada di wanasaba…. mau lewat jalur internet, mereka juga tidak ada, tidak ada website. Di facebook juga begitu, kagak ada grup facebook yang begitu jelas arahnya. Semua ini hanya menjadi bagian cerita mimpi tidur yang menyebalkan aja.

Ketika saya melihat wibsite sebuah sekolahan, saat “mencari referensi” buat tulisan ini, kadang di benak terslip pertanyaa, kapan ya sekolahan di wanasaba punya wibsite seperti itu?, padahal mereka bisa bikin lho. “Kalau” mereka memang mau dan sedikit ada rasa keinginan untuk berkembang. Termasuk desa-nya juga..! Membuat dan melangsungkan website itu simple kok, hanya butuh sedikit kreatifitas saja. Saya tidak mau percaya, sekolahan di wanasaba itu tidak punya sedikit kreatifitas dan tidak mengerti tentang website di internet?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan dasar seperti itu yang bikin saya bermimpi dalam tidur. Mimpi tidur yang menggangu waktu pribadi saya.

Ahh, apalah mimpi itu. Saya mau membuka mata dan melihat kenyataa aja dah, dan mencoba mensyukuri apa adanya saja yang telah ada di wanasaba, seperti kebanyakan mereka yang kehidupan harinnya terlihat berjalan normal-normal sahaja. Pendeknya, yang mereka sebut dengan bersikap lebih realist atau apalah.

Okey-lah, sekarang saya fokus kembali melihat referensi tulisan saya dengan sebaik-baiknya, review website sebuah sekolahan yang good itu, tanpa bersikap apriori lagi dengan wanasaba secara menyeluh dan membuka mata lebih realis yang mensyukuri apa yang ada sahaja.

Ohh iya, apa sih yang saya kerjakan sekarang ini?, saya sedang menulis..?! Menulis buat sekolahan di wanasaba dalam moment Hardiknas..?! Oh iya,. berarti saya sedang menunjukkan sikap saya dong..! Dulu, bukankah ini pernah menjadi mimpi saya?. Sebentar, saya mau ingat-ingat mimpi saya dulu.. isi mimpi saya itu ini “tampang sayup yang diem-diem di balik topeng kreatif”, di balik design gambar, sayembara tulisan, adanya grup facebook yang arahnya lumayan jelas.. Oow iya, sekarang wanasaba punya website juga, media tempat saya bisa menunjukkan rasa senang, bangga, jengkel, kritik, tanggapan, argument, ide dan gagasan saya buat Desa dan apa yang di dalamnya, termasuk buat sekolahan seperti menulis ini,. Yang benar saja, ini persis sekali seperti mimpi yang pernah menggangu tidur saya dulu.

Beneran deh..
Wassalam..

comments