TERLAHIR SEBAGAI PENULIS ZINE

Wanasaba Tim

Wanasaba Tim

ADMIN at wanasaba.com
Thenks telah berkunjung dan ngobrol, dari kami tuan rumah wanasaba(dot)com.
Wanasaba Tim

Latest posts by Wanasaba Tim (see all)

Di tulis Oleh: Risky Tile, 25 mey 2013

“Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca sebuah kebahagiaan.”

Belakangan ini saya tak sempat untuk menghanyutkan diri dalam lautan kata di buku. Ane terjebak masalah klise, yaitu waktu luang. Pun saat ane menyumbang tulisan untuk zine ini/zine doelank, ane berpacu dengan waktu yang minim. Pilihan ada dua: segeralah tidur atau menulis. Lantas, ane pilih hal kedua, menulis. Menulis tentang hal yang cukup akrab dengan ane: baca-tulis.

Ingatan ane melambung jauh ke masa saat tangan kecil ane mengenggam Bobo. Ya, majalah inilah awal mula pertemuan ane dengan bahasa, gambar, dan imajinasi. ane pun belajar bahasa bersama Ryza (genk), omex’s, dan Paman Bulenk. ane bisa melompati segala dunia lewat baca, meski gerak terbatas, alias diam di tempat (gerak jalan). hahaha….!!!

Sejak kecil, ane lebih tertarik bacaan fiksi dibanding nonfiksi. Entahlah, ane tak suka dengan ilmu pasti, ane lebih suka berfantasi. Membayangkan bagaimana serunya petualangan lima sekawan atau saat mereka sedang beraksi yang ditulis Enid Blyton. Atau betapa deg-degannya ane saat baca buku Ghost Bumps yang bersampul spooky itu (toang mu ke buku i bacaku no genk). Fiksi menurut ane lebih kaya secara fantasi.

Lama-kelamaan membaca jadi hobi. ane definisikan hobi sebagai suatu hal yang bertransformasi jadi kebutuhan. Ya, ane butuh baca, ane butuh bertemu buku. Jika ente yang berada di luar sana merasa sama seperti ane, yang sering dahaga akan buku, maka ente pasti paham betul bagaimana bahagianya membaca. Awal kuliah, pertemuan saya dengan bacaan semakin luas. Intensitasnya pun cukup tinggi. ane seperti kelaparan, melahap semua yang tersaji di depan mata. ane seperti pelancong yang menjelajahi tiap tempat yang ia suka. Kadang, ane bertandang ke sastra pop. Kadang pula ane hijrah ke bacaan yang rada feminis. Ayayaya betapa asyiknya membaca!

Tapi, ane tidak ingin jadi pembaca pasif. Adalah sebuah gerak reflek, menurut ane, saat orang mulai gemar membaca maka ia pun gemar menulis. Ya, dua hal ini punya hubungan yang erat. Dan biasanya, dua hal inilah yang lebih membuat hidup jadi bermakna. ane tidak pernah nulis serius. Menulis adalah pelarian buat ane. ane tumpahkan semua perasaan dan asa dalam kata. ane tak ingin apa yang dirasa mengambang begitu saja di udara.
Tidak, ane perlu mengikatnya, ane perlu bicara dengan jiwa sendiri. Melalui apa? Tulisan. Karena, lagi-lagi menurut ane, hidup itu sarat dengan moment. ane ingin menghargai setiap detik dalam hidup ini melalui tulisan. Meski singkat, setidaknya ane mencipta. Meski pendek, setidaknya ane ikat ide ane agar tak kemana-mana dalam tulisan. Meski sederhana, ane berkarya. Ya…seperti tulisan yang ente pada baca sekarang ini.

comments

Thenks telah berkunjung dan ngobrol, dari kami tuan rumah wanasaba(dot)com.