Wajah Sekolah Di Desaku, Seperti Ini!

Oleh: Baiq Hijjatul Khaer Fitrianinggih

Siapa yang tak pernah mendengar semboyan ini “ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” yang artina “Di Depan Menjadi Teladan, Di Tengah Membangkitkan Semangat, Dari Belakang Mendukung”. Di kalangan pelajar maupun mahasiswa pastinya sudah tidak asing lagi dengan kalimat itu. Yap ! Semboyan hidupnya Bapak Pendidikan Nasional, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara ini dijadikan sebagai jargonnya pendidikan di Indonesia. Yang hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS). Eksklusif.

HARDIKNAS yang diperingati setiap tanggal 2 Mei biasanya disambut dengan berbagai macam event yang tentunya erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Namun, Indonesia yang notabenenya memiliki tokoh-tokoh luar biasa di bidang pendidikan, pun masih belum bisa mendongkrak kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya pendidikan untuk kehidupan yang lebih baik. Terutama masyarakat pedesaan yang fasilitas dan akses telekomunikasinya masih minim. Contoh kecil dari sekian ribu contoh adalah Desa Wanasaba.

Wanasaba ? Iya, Wanasaba. Yuk ! kita intip-intip dunia sekolah (baca: pendidikan) di desa kita ini. Ada 3 sisi wajah yang akan aku lirik disini. Penasaran ??? Langsung ke point nya saja yooo…..

Pertama, faktor ekonomi masyarakat . Tentunya ekonomi dan pendidikan saangat erat kaitannya (benang merahnya kuat ). Ekonomi warga Wanasaba secara umum yang masih relatif rendah menjadikan pola pikir untuk mendapatkan rupiah yang banyak menjadi prioritas. Sekolah dianggap proses yang panjang untuk menuju kesuksesan, iya,,kalau sukses. Kalau tidak,, ???

Kedua, faktor sarana dan fasilitas sekolah. Tak kalah pentingnya, kredibilitas sekolah yang kerap dikaitkan dengan kelengkapan fasilitas dan sarana yang dimiliki merupakan salah satu kekurangan beberapa (bisa dibilang semua) sekolah di Wanasaba. Misalnya Laboratorium yang kurang memadai, terbatasnya unit komputer yang dimiliki, koneksi internet yang masih minim dan mahal sehingga website sekolahpun tak punya. Akibatnya apa, sekolah-sekolah di Wanasaba tidak dapat men-show up kegiatan-kegiatan sekolah di dunia cyber. Terlambat mengetahui info dunia luar.

Ketiga, faktor pendidik. Gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang disematkan kepada Bapak dan Ibu guru kita seharusnya mencerminkan “kepahlawanannya”, sehingga tidak hanya sekedar istilah belaka.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab kegalauan nene…? Mungkin beberapa alternatif berikut bisa kita coba:

*untuk menumbuhkan kepercayaan orang tua terhadap lembaga pendidikan formal (sekolah), harapannya dibentuk suatu komunitas bentukan beberapa sekolah yang tujuannya untuk memberikan pengetahuan di luar sekolah, misalnya tentang entrepreneurship (kewirausahaan). Sehingga pelajar memiliki skill khusus.

* mungkin-mungkin saja sekolah memberikan program ekstra untuk perkembangan karakter pelajar, jadi tidak hanya monoton pada mata pelajaran wajib. Karena karakter mental kita (pelajar Wanasaba) kebanyakan pemalu, kurang aktif, tak berani berpendapat dan sederetan karakter serupa lainnya ketika kita bersaing dengan orang-orang di luar Wanasaba. Padahal saya yakin potensi pelajar Wanasaba itu luar biasa  .

* terkait website, kalau bisa, lulusan-lulusan IT atau yang berkompeten di bidang IT, bergabung untuk kemudian melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah di Wanasaba guna membagi ilmu ke-IT-an (hehe..) yang dibutuhkan oleh calon tenaga pengelola website sekolah.

Pendidik yang baik adalah pendidik yang membimbing dan mengarahkan muridnya agar jauh lebih hebat darinya, bukan malah membunuh karakter (sereeem) muridnya. Atau bukan malah sibuk mencari jawaban saat ujian nasional tiba (:D).

Wes ngono ae dari aku…nggak na wah lekan tiang jak…
SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2 MEI 2014 WANASABA , semoga wajah pendidikan Wanasaba kedepannya lebih elegant dan berkarakter.

comments