YUUK GABUNG DISINI->PENGALAMAN MASA KECIL DI PEKEN WANASABA (EDISI MENGENANG BAGI SIAPA SAJA)

Wanasaba Tim

Wanasaba Tim

ADMIN at wanasaba.com
Thenks telah berkunjung dan ngobrol, dari kami tuan rumah wanasaba(dot)com.
Wanasaba Tim

Latest posts by Wanasaba Tim (see all)

Oleh: Lalu Fadli

sebuah cerita lanjutan..
BAGIAN II:     

Para pemain: Kami (Aku dan Ricky) | Kita (Aku, Ricky, dan kamu) | Anda=Kamu *Tergantung konteks

Masih ingat tentang pasar tradisional yang saya ceritakan sebelumnya? Saya berharap anda lupa biar ini menjadi sesuatu yang fresh buat anda. Sekarang tutuplah mata anda, biarkanlah pikiran anda terbawa, perlahan rasakan sensasi yang sebentar lagi akan anda rasakan, bagus..seperti itu! Dalam hitungan ke tiga buka mata anda! Sekarang anda telah bersama saya di sebuah desa, desa saya Wanasaba, di Lombok bagian timur tempatnya. Dari rumahku, butuh waktu sekitar dua puluh menit jalan kaki untuk bisa sampai di pasar. Kalau dalam istilah penerbitan, Pasar di desaku termasuk dalam kategori “weekly” karena hanya ada sekali dalam seminggu, tepatnya hari minggu. Mungkin ini berbeda dengan pasar di daerah kalian yang selalu ramai setiap hari. Antara desa yang satu dengan desa yang lain berbagi hari menentukan giliran masing-masing. Di tempatku hari minggu, kemudian lanjut hari senin di pasar desa sebelah, hari rabu untuk desa yang sebelahnya lagi dan begitulah seterusnya. Jadi, ada semacam perjanjian tak tertulis dalam bentuk “Shifting & Rolling”. Tentu, desa kami diuntungkan karena mempunyai giliran hari minggu, pas ketika hari libur semua aktifitas sekolah dan perkantoran. Alhasil, pasar di desa kamilah yang selalu paling ramai. Sekarang saya akan mengajak kamu jalan-jalan bersama teman saya waktu masih kecil dulu, namanya Ricky. Tapi sebelumnya, kamu jangan terlalu banyak bertanya, bicara seperlunya saja. Anggap saja sekarang umur kita delapan tahun. Percayalah pada saya, ini penting karena ada hubungannya erat dengan apa yang akan kita alami besama dalam cerita kali ini. Sekarang bersiaplah! ini agak sedikit nakal.

Kaum muslimin di seluruh dunia begitu memuliakan hari jum’at. Sedangkan kaum yahudi mempunyai hari Sabbath yang begitu mereka muliakan juga. Mungkin kami sama dengan kaum Nasrani yang memuliakan hari Minggu. Tapi bedanya, mereka beramai-ramai ke gereja, aku dan temanku Ricky pergi ke pasar. Inilah tempat yang kami anggap penuh berkah. Karena ada kamu, jadi sekarang kita bertiga. Inilah hari yang kita nanti-nanti kawan. Mula-mula kita harus berkumpul di rumahku jam tujuh pagi. Jangan telat sampai sepuluh menit, tidak ada itu dalam kamus kami. Jangan lupa bawa uang secukupnya ya, terlalu banyak godaan di tempat itu, apalagi untuk seumuran kita yang sekarang ini. Menyusuri jalur konvensional sudah sangat biasa, tidak menantang. Aku dan Ricky selalu menggunakan satu jalur khusus yang tidak banyak dilalui orang. Kami bukanlah ingin semata-mata memenuhi hasrat berpetualang, tapi kita akan melalui sebuah kebun buah milik Haji Bukran yang seperti taman tergantung Babilonia itu, apalagi kalau semuanya sedang ranum, seperti bunga-bunga yang bermekaran indah. Ingat, kamu ambil secukupnya dan jangan terlalu serakah, takutnya nanti akan jatuh terbuang percuma selain juga bisa untuk mengurangi beban berat dosa. Aku dan Ricky sudah berpengalaman dalam hal ini. Akan ada adegan saling kejar-kejaran nanti dengan Pak Haji. Tapi jangan takut, tidak perlu mengeluarkan tenaga penuh, cukup setengahnya saja. Orang yang kita hadapi adalah kambing peyot umur tujuh puluhan yang gigi depannya sudah hilang entah kemana. Paling hari raya Qurban tahun ini beliau sudah masuk list, masuk list malaikat pencabut nyawa. Jangan lupa mendoakan beliau atas jasa-jasanya kelak kalau sudah datang saatnya. Sekarang lihatlah gerbang itu! Gerbang kerajaan Julius Caesar yang menjanjikan kebahagiaan. Selamat datang kawan. Kita sudah sampai di pasar.

Hal pertama dan tak boleh terlewatkan adalah mencicipi soto Ibu Parman. Teman-teman, yang membedakan soto ini dengan yang lain adalah kuahnya yang berwarna hitam. Kami menduga serbuk hitam itu adalah hasil dari kelapa parut yang dibakar. Dan memang benar, tapi rasanya begitu kompleks, pasti ada campuran bumbu-bumbu lain didalamnya. Pernah kami sekali menanyakan perihal itu, ibu Parman bilang tidak boleh, ini rahasia perusahaan. Begh, mungkin dikiranya kami dibayar sama saingannya, penjual soto sebelah. Tapi secara pribadi, aku tidak menyangka, jiwa-jiwa dagang liberal sudah mengakar kuat dalam paradigma ibu Parmin, Property-Right begitu diagung-agungkannya. Sekarang kita lanjutkan perjalanan. Sekarang kita ke tanah lapang di bagian pasar paling belakang. Disini ada tukang jual obat. Yang menarik adalah dia figur yang multi talenta. Selain menjual obat, dia menarik calon pembelinya dengan aksi sulap yang akrobatik. Kecepatan tangannya dalam menelan bola pimpong sungguh membuai. Tapi yang paling mengerikan adalah ketika dia memasukkan anak kecil kedalam keranda mayat, digoroknya dari luar anak itu, lantas ditariknya kemudian dikelilingkan ke arah penonton dengan leher yang bersimbah darah. Sengaja dia melakukannya dengan cepat sebelum dimasukkan lagi ke dalam keranda mayat agar penonton lepas fokus, apakah lehernya tergorok atau cuma dilumuri obat merah atau zat semacamnya, cerdas. Aku melihat Ricky gemetar ketakutan. Tapi aku salut denganmu, tidak ada ekspresi takut sedikitpun. Setelah penonton berdatangan, barulah dia mengeluarkan obat yang akan dijualnya.

Dia (Lelaki penjual obat itu) benar-benar mengerti pasar. Mayoritas penonton adalah kaum laki-laki, bahkan terkadang semuanya adalah laki-laki. Dan oleh sebab itu, maka..wess..obat yang dijualnya adalah kebanyakan khusus untuk laki-laki. Dari segi penampilan, dia lumayan keren dengan setelan plus dasi mirip eksekutif muda. Kata-katanya sungguh meyakinkan layaknya salesman. “Babak-bapaak..bagi anda yang bertenaga loyo, kurang gairah, kini telah hadir: GOYANG BUMI! SOLUSI BAGI ANDA!!!” Ah, pastilah obat itu buat para petani yang cepat capek dan malas pergi kesawah pikirku. “Bapak-bapaak..keluarga anda kurang harmonis, istri anda ngomel-ngomel di rumah, marah-marah sampai lempar piring, kini telah hadir: GOYANG BUMI! SOLUSI BAGI ANDA!!!” Ah, sepertinya tetanggaku yang sering bertengkar itu seharusnya hadir disini, siapa tahu obat ini bisa membantu pikirku lagi. Seorang asistennya berkeliling mengumpulkan uang yang disodorkan oleh beberapa bapak dari tadi. Uang tadi ditukarkan dengan sebungkus obat dalam bentuk kapsul. Seakan-akan tidak puas, kali ini dia berdiri. Si penjual obat kembali berorasi, kumisnya sangar bagaikan Joseph Stalin yang akan membantai rakyatnya sediri, “Bapak-bapaak..obat ini langsung didatangkan dari China, tidak ada keraguan, inilah rahasia para kaisar, siang dan malam tanpa lelah, kuat, kencang, dan tahan lama: GOYANG BUMI! SOLUSI BAGI ANDA!!!” Ah, pantas saja kekaisaran China begitu luasnya, bayangkan..kaisarnya saja tidak pernah tidur untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya pikirku. “Heh..anak kecil! Pulang kalian, pergi main sana!” tiba-tiba salah serorang bapak dari deretan penonton membentak kami. Dasar dominasi orang dewasa gerutuku, selalu saja begitu dimana-mana. Mereka tidak sadar apa, pengetahuan yang diberikan oleh bapak penjual obat tadi begitu berharga, apalagi buat kami para penerus bangsa. Seharusnya obat yang dijualnya itu disponsori oleh depertemen kesahatan, juga departemen pendidikan atas jasa-jasanya tadi. Tapi sudahlah, lagipula sulap dan atraksinya sudah berakhir. Saatnya melanjutkan perjalanan, dan inilah tanah suci yang wajib kita kunjungi untuk menyempurnakan diri.

Deretan Penjual Buku. Kami berhenti sejenak, mungkin kamu bingung, tapi inilah hasil observsi kami selama berhari-hari. Di pasar ini, penjual buku ada tiga orang. Orang yang pertama memakai kopiah putih lengkap dengan kain putih seukuran taplak meja yang digantungkan di leher. Pastilah orang ini telah menunaikan rukun islam yang kelima, sempurnalah dia sebagai seorang muslim. Bapak ini pastilah ahli ibadah dan ilmu agamanya kuat juga, ini terlihat di dahinya ada semacam bekas yang meninggalkan jejak berwarna hitam. Semoga saja hipotesisku benar, semoga bapak ini tidak habis kejedot pintu ataupun jendela pikirku. Panggil saja namanya Si Fundamental. Dan haram bagi kita menginjakkan kaki di tempatnya. “Kemudian di tengah itu..” lanjutku menerangkan seperti Tour-Guide profesional. “Bapak yang memakai topi berwarna hitam dan bekemeja garis-garis itu, agak sedikit beresiko, kita harus hati-hati, panggil saja dia dengan nama Si Moderat” lanjutku. Tampak di wajahmu semakin penasaran, sementara Ricky manggut-mangut pertanda sudah mengerti. Dan yang terakhir, dialah target kita. Dengan rambut klimis khas minyak rambut cap “lalat dijamin kepeleset”, orang ini layak kita sebut sebagai seorang birokrat orde baru, apalagi dengan memakai kemeja yang dimasukkan kedalam celana. Sabuknya hitam mengkilat khas kulit tiruan. Orang ini sepertinya belum menikah, dia masih muda, kalau boleh menebak, umurnya mungkin sekitar delapan belas tahunan. Panggil saja namanya Si Liberal.

Sepertinya kamu sudah tidak sabar. Baiklah, aku akan menjelaskannya. Tujuan kita disini adalah membeli sebuah buku rahasia. Sebenarnya ini terlarang bagi anak seumuran kita, tapi kita akan mempelajarinya secara diam-diam. Si Fundamental itu tidak menjual buku jenis yang kita cari. Jualannya hanya kitab dan buku-buku agama saja, seperti Alqur’an, Tuntutan Shalat Lengkap, Kunci Ibadah dan saudara-saudaranya itu. Sudah jelas, kita tidak akan mencapai tujuan kita disana kawan. Lanjut ke Si Moderat tadi, Selain menjual kitab dan buku-buku agama, bapak ini menjual buku yang kita cari, tapi dia sangat selektif dengan calon pembeli, sedikit beresiko dan sebaiknya kita hindari. Si Liberal yang terakhir itu, dia tidak mementingkan moral sama sekali. Di matanya hanyalah profit-oriented, buku laku terjual habis, perkara apa yang dibeli dan siapa yang membeli, itu urusan belakangan, yang penting untung, Titik! Lihat kan? Dari wajahnya saja sudah terpancar keserakahan Raja Louis ke empat belas. Bola matanya berputar cepat vertikal bagaikan mesin jackpot yang mengeluarkan lambang dolar. Tubuhnya identik dengan tabiatnya, kurus pucat seperti bangsa Leprechaun yang suka mengumpulkan emas. Tempat Si Liberal itulah tujuan akhir perjalanan kita untuk hari ini kawan!

Kami mulai mendekat ke arah lapak target kami tadi, Mataku dan mata Ricky sudah berkeliaran. Kamu diam saja, perhatikan saja kami dan itu sudah cukup. Sipp..itu buku yang kita cari ujarku, menumpuk pula. Dalam hatiku berteriak: Hurraaaaay! Aku dan Ricky saling pandang, senyum licik kami merekah tanda akan dimulainya aksi. Ini sudah dipersiapkan sebelumnya. Aku yang akan mengalihkan perhatian Si Liberal untuk pertama kali. Ku lihat Ricky beraksi, sepertinya dia serius sekali membaca tiap kalimat didalamnya. Aku semakin tidak sabar. Lebih dari lima menit kini Ricky sudah selesai. Mata Ricky menerawang, mengambang seperti orang yang baru saja kena hipnotis, ini memang efek sampingnya. Kini giliranku. Sementara giliran Ricky meladeni si Liberal.

“Wee..adek yang kemaren, Mau cari buku apa dek, nih ada Juz’Amma edisi terbaru, sampulnya baru-baru lho? Tawarnya pada Ricky. Si Liberal tidak sadar ini adalah bentuk pengalihan yang sangat rapi. Aku mulai menyeleksi buku-buku rahasia yang terlarang itu, INILAH DIA! Gambar-gambarnya sungguh provokatif, wanita setengah telanjang dengan menggigit bibir, ada juga yang memegang buah dadanya, ohh.. “Lihat yang satu itu” bisikku pelan kepadamu, dia memegang ular besar yang melilit-lilit tubuhnya, aku tidak yakin betul apakah itu sanca atau piton. Judulnya pun tak kalah provokatif kawan, ada Tante Susi yang Seksi, Kost Mesum Pinggir Kota, Permainan Terlarang, Ranjang Kenikmatan, Ranjang Rusak, Ranjang Reyot dan entah ranjang apa lagi. Bagiku, Semuanya sama-sama menarik. Sebentar, Aku tidak yakin, sebenarnya kapan saat pertama kali kita mengalami libido? Apakah seumuran aku ini? Akupun tidak tahu, yang jelas aku sangat menikmatinya, sangat memikat dan itu adiktif. Sementara Ricky kelihatan masih sibuk pura-pura menawar sebuah buku. Hei kamu..sini! Kamu juga harus lihat yang satu ini, aku yakin ada sisi lain dalam dirimu yang mendorongmu untuk melihatnya. Kamu menurut dan itu bagus. Aku belum puas. Sekarang saatnya membaca saripati buku ini. Triknya mudah, tidak perlu membuka perlembar halaman buku ini, tapi cukup lihat di cover belakangnya, disitulah sinopsisnya berada. Ah..Tante Susi kelihatanya menarik, ku balik buku itu perlahan untuk mengurangi resiko ketahuan. Perlu kalian ketahui, Si Liberal kadang memandang dengan tatapan yang tidak enak kepada kami seminggu yang lalu, walaupun kami tahu dia tidak akan melarang kami untuk ini, tapi tetap saja ada perasaan yang tidak enak secara pribadi dan itu sangat mengganggu. Untuk itu, berhati-hatilah! Dan ini dia..Ini diaa..! Aku membacanya dalam hati:

Tante Susi menggeliat, menggelinjang seperti cacing kepanasan

“Ohh..” Rintihnya.

Akupun tak kuasa menahan ini. Tak terjelaskan, begitu sesak tapi nikmat, rasanya ada yang siap keluar kapan saja dari tubuh ini. Jantungku berdegub kencang, irama nafas sudah tidak karuan, perasaanku bagaikan naik turun Lift dalam kecepatan yang luar biasa, kemudian lepas menembus batas dari tempat yang sangat tinggi, ohh..tante Susiii. Mari teman kita pulang! Sudah saatnya. Petualangan kita ke barat untuk mencari kitab suci telah tercapai. Sepanjang perjalanan pulang kami memasang ekspresi yang sama. Jalan rasanya dipenuhi bunga-bunga, Inikah surga itu kawan? ”Yes, it is Jouy!” jawab kami serempak masih dengan mata dihipnotis.

NB: Kalau ada kesamaan tokoh, latar atau kejadian, itu hanyalah fiktif belaka. Maaf untuk kata-kata yang terlalu vulgar. Tapi kami (Aku, kamu dan Ricky) mempunyai pesan yang sama kepada para orang tua, terutama kepada ibu-ibu rumah tangga: JANGANLAH MEMBIARKAN ANAK-ANAK ANDA BERKELIARAN DI PASAR SENDIRIAN, APALAGI DI PEKEN WANASABA! HAHA..

keterangan:
Penulis: Lalu Fadli
posting: Tim wanasaba.com

comments

Thenks telah berkunjung dan ngobrol, dari kami tuan rumah wanasaba(dot)com.